Tuesday, April 1, 2008

Meyambut 102 Tahun Ngkalongan
Edan ah.... nganggo Ulang Tahun mbarang
Top Markotop - Sakpore

Kang Jasir (Jowo Pesisir)
Kambek Mas Jaman (Jowo Pedalaman)

Kalau kita kojahan tentang masyarakat Jowo, assosiasi kita ya masyarakat yang tinggal diPulau Jowo yang membentang dari Anyer sampai Banyuwangi. Tapi masyarakat yg menghuni di Planet Jowo tidak semuanya mau disebut Wong Jowo.

Orang Serang atau Tangerang, menyebut dirinya wong Banten. Orang Ciledug atau Meruya Jakarta, tidak mau disebut Wong Jowo, dia bilang, Orang Betawi..

Apalagi orang2 Jawa Barat, disebut Sunda. Secara sosisologis dan antropologis ya memang begitu . Yang mau nyebut dirinya Wong Jowo, hanya orang2 Jawa Tengah, Jogya, Solo ,

Tentang Wong Jowo Jawa Tengah, Jogja dan Solo, biasanya persepsinya menjadi bias,.
Masyarakat di Jawa Tengah dan DIY digeneralisir seluruhnya Wong Jowo. Sehingga pernik2 budayanya dianggap tunggal. Contoh dalam upacara kawinan,. Wong Ngkalongan. ,(karena dianggap Wong Jowo ) kalau mantenan, ya mengikuti seremoni budaya Jogja atau Solo, yang dianggap sebagai pusatnya budaya Jowo. Ya pakai cucuk lampah, pakiannya mempelainya busono kraton bahkan adicoronya pakai boso yang tirik2, padahal ora reti artine.

Secara etnologis dan budaya, Jowo Jawa Tengah dan DIY itu dapat digolongkan menjadi dua entitas, yaitu Jowo Pesisir dan Jowo Pedalaman.

Yang pesisir, yang mendiami wilayah Pantura (antara lain Wong NgKalongan), disebut KANG JASIR (Jowo Pesisir) dan yang pedalaman –jauh dari pesisir -, seperti Solo, Jogja dan daerah2 sekitarnya, Bantul, Wates, Kulon Progo, Sragen, Karanganyar dlsb. disebut MAS JAMAN ( Jowo Pedalaman). Sudah barang tentu pernik2 budayanya jauh berbeda.

Kang Jasir karena jauh dari Pusat Kraton, biasanya punya sikap egaliter. Semuanya sama, tidak ada batas, tidak ada unggah-ungguh. Lebih demokratis, terbuka. Semuanya sama, yang beda hanya kwalitas taqwanya dihadapan Kanjeng Gusti Alloh .

Beda dengan Mas Jaman, karena dekat dengan pusat kekuasaan Kraton, orang2nya lebih memperhatikan sopan santun, unggah ungguh , bahkan dalam pergaulan sehari2nya, menggunakan boso kromo yang tirik2 itu. Sebagaimana ketika mereka menghormati Rajanya. Oleh karena itu, kita harus maklum kalau Mas Jaman kadang2 “godeg2” lihat tingkah laku Kang Jasir dalam pergaulan sehari2. Ora nganggo totokromo. Sakpenake dewe !. Maklum karena -ya itu tadi- Mas Jaman terbiasa hidup teratur, penuh sopan santun ……. Injih…..monggo….. nuwun sewu…Jadi Mas Jaman, jangan kaget kalau Kang Jasir Ngkalongan suka ngobral kata2 : edan, raimu, gebleg ! Kata2 ini merupakan ekspresi kehangatan dan kelezatan pergaulan dan persaudaraan.

Jangankan dengan sesame kawan, Kang Jasir Ngkajangan kalau omong sama orang tuanya , ya biasa saja. Lempengan , ngga pake boso2 kromo yang tidak difahaminya .
Entres dan enjoy saja.Ya saking egaliternya. Boso kromo dianggap Boso Ketoprak.

Waktu dulu saya Nyantri di UGM Jogja, pesan Bapak saya antik “ Le kowe tak sekolaheke nang Gajah Mada Jogja kuwi ben pinter, . dudu ben dadi pemain Ketoprak " Jawab saya: “ paham.. paham Pak, ojo kuwatir beres ….. !“ Biasanya dengan jawaban begitu, sangune mesti ditambah….. ha..ha…

Oleh karena itu kalau Kang2 Jasir, mau mantu anake, yo mustinya pakai budayanya sendiri. (budaya khas Ngkalongan ) Mantennya lanang pakiannya model Baju Koko, kopiah Hitam Hasan Sukur, sarung batik osli Ngkalongan. Begitu juga manten perempuannya, pakai kerudung / jilbab, dan jarik batik osli Pekalongan.ditambah nganggo tesmak (kocomoto) ireng , ben tambah afdol. Iring-2an mantennya waktu mau dipertemukan, pakai terbang kencer Bring.. tong….bring….tong2… bring….. !

Pengatur acaranya ya pakai bosone Kang Jasir Ngkalongan :

”….. Sedulur2 kabeh… alkhamdulillah …. Kowe kabeh biso teko nang resepsi iki, berarti nglegakke. Aku minangko wakil kadek Sohibaul Bait, matur nuwun yang banyak. Resepsi mantenan iki , yo kuwi, resepsi mantenan anake Pak Kaji Djupri sing arane : Moh. Iqbal melawan anake Pak Kaji Dullah sing arane Siti Markonah……… “

Bring…tong2….bring…. Salatulloh Salamulloh …….” Suarane terbang kencer Njayan Buaran."

Selamat Ulang Tahun Ngkalongan


Tuesday, February 19, 2008


Selamat Datang Bencana !

Artikel khusus untuk Bulletin PIJAR

Tahun 2008 ternyata bukan tahun “Visit Indonesia 2008/ Kunjungan Wisata” sebagaimana dicanangkan oleh Pemerintah. Dengan V-I 2008 Pemerintah mengharapkan pada 2008, 6 juta wisatawan akan datang ke Indonesia . Secara ekonomik itu adalah devisa !

Kita boleh mengharap , tapi ternyata yang datang ke Indonesia pada awal 2008 bukannya Wisatawan, tapi Bencanawan.

Diairport CKG ( Cengkareng), ribuan orang tertahan karena Montor Mabur tidak didizinkan take off dan landing. Selama 3 hari para pengguna pesawat terbang tertahan di CKG, dikepung dan disambut oleh Bencana banjir.

Pulang ke Jakarta tidak bisa, berangkat dg pesawat tidak bisa. Disana banjir, disini banjir, dimana2 banjir. Ironisnya pada saat yang sama , kawasan hunian super mewah Pantai Indah Kapuk, yg terletak disepanjang jalan tol menuju CKG , - kawasan hunian (kata pengamat lingkungan) , yang menyebabkan banjirnya jalan tol ke bandara CKG – dengan gencarnya mengiklankan huniannya dengan segala kesombongannya “ hunian prestisius, hunian setara berlian yang tiada taranya…..bla… bla… “

Kunjungan Bencanawan tidak hanya singgah di Jakarta saja, tapi juga mengunjungi Solo, Jepara, Pati . Kudus, Rembang Bojonegoro, Lamongan , Besuki. Daerah2 di Jawa Barat , Sulsel , Sumatera dan malah sempat mampir juga ke Pekalongan. Dikab Pekalongan. bukan saja beberapa desa banjir , juga beberapa desa longsor. Lha ora longsor piye, wong kawasan hutan Pekalongan dimodel potong rambut pemain2 bola Eropa…. digundul oleh pembalak2 liar! .Di Pati karena banjir, antrean kendaraan truk mencapai 30 km. Jalan trans Jawa rusak berat. Bagaimana tidak rusak , jalan yang seharusnya hanya untuk menopang beban 10 ton, dibebani 50 – 60 ton. Sehingga life time jalan yang seharusnya bisa tahan 10 tahun, hanya tahan 2 bulan.

Banjir, longsor ,kerusakan alam adalah akibat sikap kita yang tidak bersahabat dengan Alam dan lingkungan. WALHI ( Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ), melaporkan bahwa th 2007, terjadi 145 bencana di Indonesia, dan sekitar 125 kasus bencana disebabkan karena ulah dan perbuatan manusia.

Keadaan ini telah dilukiskan dengan jelas dan terang oleh Al Quran, yaitu ketika Allah memberikan signyal dalam Ar-Rum : 41

[30:41] Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Atas musibah bencana yang datang silih berganti itu ,pertanyaan besarnya, adalah “dimana dan kemanakah engkau Islam”.

Al Quran menyebut tentang bumi (ardh) tidak kurang 456 kali. Dalam Al Jaatsiyah :13 dan Surat Luqman : 20 Allah memberikan statement :

[45:13] Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

[31:20] Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni'mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

Pesan Quran tsb. diatas dengan ketajaman nalar , secara bebas dapat difahami dengan bahasa dan nuansa yang sama , bahwa Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung kehidupan. Namun demikian masih saja ada sebagian manusia yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono tanpa alasan2 rasional (pengetahuan) .

Jelaslah sudah, bahwa “bersahabat” dengan SDA dan lingkungan, secara Quranik , menjadi kewajiban muslim dan muslimah.

Karena dia adalah sahabat, maka tidak sepantasnya diperlakukan semena2. Ketika kita memperlakukannya secara beradab, dia akan menjadi ramah dan menjadi penopang daya dukung kehidupan. Sebaliknya ketika kita memperlakukannya secara “dholim” , dengan merusak ekosistem kehidupannya, pastilah dia akan murka. Itulah yang sedang kita alami sekarang ini. Banjir, longsor adalah muara kemurkaaan mereka, karena dia telah kita perlakukan semena2.

Sekarang kita harus jujur, apakah kita telah sepenuhnya memahami dan mengamalkan pesan2 Quran terhadap SDA dan lingkungan. Masalah SDA dan lingkungan masih dianggap sebagai masalah sekuler. Kita masih saja asik dengan soal2 “halal haram dan sesat menyesatkan” dan masih saja asik dengan simbol2. Sehingga nyaris kita tidak faham mana Islam Budaya dan mana Islam Syariah . Kita masih belum – atau kurang – memberikan porsi pada masalah2 muammalah (sosial). Kita masih asik saja dengan paradigma , bahwa masalah2 Islam adalah masalah2 ritual. Kesalehan sesorang masih diukur, seberapa jauh dia “berjamaah di Masjid”, pergi mengunjungi pengajian. Sikap seperti itu benar, tapi tidak kemudian melupakan kewajiban2 muammalahnya. Yang musti kita bangun disamping saleh ritual , kita juga wajib menjadi saleh sosial

( peduli terhadap masalah2 sosial disekeliling kita) termasuk salah satunya adalah masalah lingkungan.

Oleh karena itu sudah saatnya kita , para ustadz, kyai, mubaligh2 Muhammadiyah , memberikan porsi yang seimbang dalam menyampaikan kajian2 ke Islamannya , baik masalah2 ritual keagamaan , maupun masalah2 sosial yang menjadi “problem” kehidupan kita. Sehingga dengan demikian Mubaligh2 Muhammadiyah, menjadi Mubaligh Organik, Mubaligh yang piawai mensitir pesan2 Quran dan Hadits dan cerdas mencermati masalah2 sosial . Islam adalah “problem solver” bukan “trouble maker”. Islam adalah agama yang “memecahkan masalah tanpa masalah”.

Fastabiqul Khoirot

Nasrun Minnalloh Wa Fatkhun Qorieb

www.faridakhwan.net

farid@faridakhwan.net