Sunday, November 25, 2007



Pasar Tradisional Bergaya Modern

SUDAH BERSIH, BELANJA APA PUN TERSEDIA
Pasar Kajen Kudu Niru Pasar Sing Koyo Kiye


Untuk memenuhi kenyamanan pembeli, pasar yang didirikan developer ini dikemas bersih dan rapi. Ibu-ibu pun senang belanja di sana. Apa bedanya dengan pasar tradisional pada umumnya?

KLIK - Detail Suasana pasar tradisional yang biasanya kumuh, becek, dan padat tak terlihat ketika memasuki Pasar Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Pasar ini begitu bersih dan rapi, dengan menggunakan lantai keramik. Para pedagang menata dagangannya secara rapi di lapak mereka. Di belakang masing-masing lapak, tersedia keran air.

Di pasar yang dikeliling ruko-ruko ini terdapat 320 kios dengan ukuran 3 x 5 meter dan 300 lapak ukuran 2 x 2 meter. Mereka adalah pedagang pakaian, gordin, suvenir, VCD, hingga makanan matang. Di lapak lain, ada pedagang daging, ayam, sayur, buah.

Sekeliling pasar yang dibangun di atas tanah seluas tiga hektar ini, ditempati kios-kios. Sedangkan posisi lapak berada di tengah-tengah.

Ada beberapa kelompok lapak. Satu lorong diisi pedagang daging, di bagian lain khusus pedagang ikan basah. Masing-masing dibagi sesuai dengan jenis dagangan yang dijual.

CIPTAKAN KENYAMANAN
Kenyamanan untuk pembeli memang sudah jadi komitmen pengelola pasar. "Kami ingin menciptakan kenyamanan buat pembeli yang sudah datang ke mari. Salah satunya, kami tidak memperkenankan pedagang asongan, pengamen, dan peminta-minta datang ke pasar ini," kata Erian Iskandar, finance Pasar Modern BSD City.

KLIK - Detail Ide membangun pasar modern ini, kisah Erian, sebenarnya sudah lama. "Pembangunan pasar ini adalah bagian dari fasilitas yang dilakukan perumahan Bumi Serpong Damai. Pasar lama yang berada di areal BSD sudah tak cocok lagi dengan pengembang di sini. Jadi harus direlokasi dan reabilitasi," ujar Erian seraya mengatakan pengelola pasar adalah developer BSD.

Konsep pasar yang didirikan 1 Juli tahun lalu ini, kata Erian, dibuat seperti mal, yaitu bersih dan rapi. Pasar buka mulai jam 05.00 - 14.00. Nah, dalam rangka menjaga ketertiban dan kerapian, pengelola pasar menerapkan tata tertib yang harus dipatuhi pedagang. Salah satunya, para pedagang dilarang meletakkan barang dagangan di jalan atau lorong.
"Apabila melanggar, barang dagangan diambil atau dibawa ke kantor pengelola. Jika dua kali melakukan pelanggaran, akan dapat sanksi pemutusan perjanjian sewa secara sepihak," jelas Erian.

Aturan lain, pedagang tidak diperbolehkan membiarkan sampah berceceran. Sampah harus dimasukkan ke dalam kantong plastik dan meletakkan di areal yang ditentutan, sampai petugas kebersihan mengambilnya pada jam tertentu. "Para pedagang juga harus menata dan mengatur dagangannya hingga terlihat menarik."

Dengan penataan yang menjanjikan kenyamanan ini, tak heran banyak pembeli yang berbelanja di pasar ini. "Mereka ada yang datang dari Pondok Indah, Bintaro, Ciputat, Pamulang, Cibubur, dan warga Tangerang sendiri. Bahkan, Pemda se-Jawa sering melakukan study banding. Mereka melihat konsep yang kami bikin. Rata-rata tertarik dan berkeinginan menerapkan di daerah masing-masing."

KLIK - DetailSENANG DIANTAR SUAMI
Pasar semakin ramai dikunjungi ibu-ibu yang belanja, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Salah satu ibu yang selalu belanja di pasar ini adalah Marda (35). "Saya tahu pasar ini dari teman. Katanya, pasar di sini lain dari yang lain. Bersih, nyaman, dan enak. Sebagai ibu rumah tangga yang bawaannya selalu ingin tahu, saya pun ke pasar ini. Ternyata memang asyik. Jarang-jarang ada pasar seperti ini," kata warga Bintaro ini.

Sudah begitu, barang kebutuhan rumah tangga yang diinginkan pun tersedia. Tak heran, ibu dua anak yang terbiasa keliling Jakarta jika hendak membeli barang ini, akhirnya memilih Pasar BSD jadi favoritnya. "Beda dengan belanja pasar tradisional di dekat rumah saya, terkadang apa yang saya butuhkan tidak tersedia. Di sini, bumbu lain seperti daun ketumbar yang susah didapat di pasar tradisional yang lain, juga tersedia," ujar Marda yang mengaku sudah mengelilingi pasar di Jakarta dan sekitarnya.

Yang paling membahagiakan Marda, suaminya jadi tak segan mengantarnya ke pasar. "Suami betah nunggu, kok. Di depan pasar, kan, banyak terdapat warung makanan. Dia nunggu di warung dengan anak sambil baca koran," ujarnya sambil tersenyum.

Pengunjung lain, Siwi, juga merasa nyaman belanja di Pasar BSD. Ibu satu anak warga Binatro ini mengaku sudah sekitar setahun belanja di sini. "Ibaratnya sejak pasar buka, saya sudah belanja di sini. Saya senang karena tempatnya nyaman. Ruangannya luas dan sirkulasi udara juga lancar karena atapnya tinggi. Kalau hujan, pasar ini juga tidak becek. Sudah begitu, harga barang di sini enggak terlalu mahal." ( Tabloid Nova )

Pekalongan Maju Jogjakarta Lesu


Hr Kompas


SALAH satu bukti adanya sinyal yang berbeda tentang situasi ekonomi terlihat dari produksi dan perdagangan batik. Di Pekalongan krisis ekonomi tidak begitu mempengaruhi usaha kerajinan batik di kota itu. Tetapi, sebaliknya di Yogyakarta (yang bersama Solo) selama ini dianggap sebagai pusat produksi dan perdagangan batik, malah lesu.

Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tidak begitu berpengaruh terhadap kemajuan usaha kerajinan batik di Pekalongan, walaupun juga diakui terjadinya kenaikan harga bahan baku yang seiring dengan meningkatnya permintaan pesanan dari banyak kalangan terhadap produk kerajinan batik Pekalongan.

Sedangkan dari Yogyakarta dilaporkan, banyak pengusaha batik dan kerajinan sebenarnya mengalami masa paceklik, terutama mereka yang mengandalkan pasar pada kunjungan wisatawan mancanegara.

Di Pekalongan, beberapa bahan baku yang naik harganya itu meliputi kain santung, kain prima, dan bahan jadi sutera. Kenaikannya berkisar Rp 150-Rp 1.500 per yard kain. Sedangkan di Yogyakarta, pasar batik dan kerajinan terus mengalami penurunan, sehingga mereka yang selama ini mengandalkan pasar dalam negeri termasuk kunjungan wisatawan mancanegara (seperti sejumlah pengusaha batik di pusat batik Kampung Prawirotaman), banyak yang gulung tikar, atau pindah usaha ke usaha perhotelan.

Direktur Pasar Grosir Sentono, Pekalongan, Hasanuddin menjelaskan, berkat promosi yang gencar dilakukan perajin, termasuk mengikuti pameran batik di Jakarta belum lama ini, diakui dampaknya cukup besar. Permintaan produk-produk batik hasil kerajinan Pekalongan banyak mengalir. “Tetapi seiring dengan kenaikan itu, naiknya permintaan juga dibarengi dengan kenaikan harga-harga bahan baku,” ujar Hasanuddin.

Harga bahan baku yang naik itu, meliputi kain santung, kain prima dan bahan jadi sutera. Dari sejumlah bahan baku itu, kenaikan cukup tinggi itu pada kain santung. Kain santung kini mencapai Rp 4.000 per yard, sedangkan kain prima sudah mendekati Rp 3.500 per yard dan kain jadi sutera juga mengalami kenaikan harga yang beragam.

“Kalau pakaian jadi dari sutera untuk kemeja, misalnya, kini dijual Rp 85.000 hingga Rp 150.000 per satuan. Dengan harga ini ada kenaikan antara Rp 5.000-Rp 10.000. Untuk pakaian perempuan, baju setelah dengan selendang berkisar Rp 150.000 hingga Rp 250.000,” ujarnya.

Damin, perajin lain di Kajen, Pekalongan, mengatakan, berhubung belanja bahan mengalami kenaikan maka harga jual pun ikut naik. Malahan, karyawan juga menuntut adanya kenaikan upah setelah tahu banyak produk begitu laris di pasaran.

Dia mengatakan, kenaikan bahan itu sebenarnya tidak terlalu berat karena permintaan produk kerajinan juga naik. “Permintaan pakaian daster (baju tidur) ke Jakarta yang biasanya saya hanya mengirim empat kodi per minggu kini tambah menjadi enam kodi. Kemudian, order baju batik juga ada peningkatan dengan pesanan 7.500 biji.”

Perajin lain, Mahlul Akbar mengemukakan, perajin juga masih banyak menerima limpahan dari panen kali ini. Musim panen ini setidaknya bisa menjual hasil kerajinan. Rata-rata pedagang di pasar grosir bisa menjual pakaian batik empat-enam potong per hari.

Penurunan di Yogyakarta
“Terus-terang, saya baru saja mengalami penurunan omzet paling tidak 15 persen per bulan. Kalau saya tidak mengandalkan diri dengan karya-karya saya sebagai desainer, wah enggak ngerti lagi bagaimana nasib saya yang harus menanggung ratusan karyawan,” ujar desainer beken dan pengusaha batik dan berbagai kerajinan Ardiyanto Pranata kepada Kompas.

Selain mengandalkan, pasar pada desain-desain pakaiannya, Ardiyanto mengaku, pasar terbesarnya sebenarnya bukan pasar lokal. “Saya mengandalkan diri pada garmen. Ini sudah agak lama, dan saya punya pasar Amerika. Makanya, meskipun nilai rupiah terus merosot, untuk komiditas garmen, justru menguntungkan,” kata Ardiyanto yang mulai melayani pasar baru Jepang via Bali.

Menurut Ardiyanto, berbagai corak garmen-dan bukan batik-kini tengah nge-trend di Bali, atas permintaan wisatawan Jepang. “Banyak turis Jepang yang menyatakan kawin di negeri mereka itu biayanya mahal, maka mereka membuat wedding ceremony acara perkawinan di Bali dengan harga lebih murah, lengkap dengan bajunya,” ujar Ardiyanto.

Menurut Ardiyanto, bisnis batik dan garmen yang mengandalkan pasar wisatawan, harus mempunyai ciri khas, yaitu high fashion atau secara khusus memiliki jaringan pemasaran langsung ke negara lain. Tanpa itu, bisnis batik, garmen, maupun kerajinan akan mengalami kesulitan.

ATBM
Sementara itu industri lain di Pekalongan seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) juga tak mengalami kelesuan akibat naiknya harga dollar. Menurut perajin ATBM di Kota Pekalongan, Umi, pemasaran produk-produk ATBM masih tetap selancar minggu sebelumnya. Bahkan, para pemesan yang berdatangan dari luar kota seperti dari Jakarta, Bandung, dan Ciamis, juga tetap memesan dalam volume yang sama yaitu dua kodi.

“Pendapatan kami tetap sama, Rp 3 juta per hari. Apa mungkin karena sekarang masih musim haji yah, sehingga masih banyak orang yang punya uang. Saya tidak tahu apakah kalau musim haji sudah habis, pendapatan kami masih tetap sama?” tanya Umi.

Sementara, pembeli eceran pun tetap berdatangan. Baik yang memesan langsung ke rumahnya maupun yang datang ke Pasar Grosir Sentono.

Pansus setujui renovasi Pasar Kajen
Sabtu, 17 November 2007
Wawasan Digital


Pansus setujui renovasi Pasar Kajen

Image
Foto : Hadi
KAJEN - Setelah melakukan kajian, panitia khusus (pansus) Pasar Kajen akhirnya me­nye­tujui rencana renovasi Pasar Kajen, de­ngan harga terjangkau pedagang. Kendati de­mikian, pansus juga meminta eksekutif melakukan kajian geo ekonomi dan lingkungan rencana pasar baru di Sinangoh­prendeng. Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Asip Kholbihi SH, ditemui Wawasan, Jumat (16/11) menjelaskan, dari hasil rapat ga­bungan DPRD, surat nomor 172/475/2005, tertanggal 13 Desember 2005, tentang Per­setujuan Pasar Baru Kajen, dicabut.

Dewan juga menyetujui usulan renovasi Pasar Kajen, sesuai dengan Surat Bupati Pe­ka­longan nomor 644.2/27, tanggal 13 Juli 2007, perihal Permohonan Persetujuan Pem­bangunan/Renovasi Pasar Kajen.

Dijelaskan, rekomendasi yang dikeluar­kan pansus pasar yang diketuai H Khilmi Fir­daus SE, di antaranya pembangunan renovasi Pasar Kajen yang berada di Jalan Di­po­negoro dapat dilakukan dengan memperhatikan hasil survei pansus pengkajian re­lo­kasi/renovasi pasar. Dalam renovasi Pasar Ka­jen, perlu dibangun tempat penempatan sementara bagi para pedagang.

“Para pedagang yang menempati tempat penampungan sementara dibebaskan dari biaya retribusi. Eksekutif juga diminta melakukan pemutakhiran data pedagang Pasar Kajen dan disosialisasikan kepada masyarakat pasar,” kata Asip.

Terkait lahan di Desa Sinangohprendeng yang telah disiapkan untuk pasar baru, Asip menjelaskan, pansus meminta agar pemba­ngunan pasar di Sinangohprendeng dapat di­la­kukan dengan terlebih dahulu dilakukan kajian geo ekonomi dan lingkungan, dengan peruntukan pasar, seperti pasar buah, sayuran, dan hewan.

Rencana anggaran renovasi Pasar Kajen yang semula dirancang Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Pekalongan, mencapai Rp 29 miliar, telah didesain ulang. Dalam desain ulang, rencana anggaran renovasi Pasar Kajen, menjadi Rp 24 miliar. Selain itu, ukuran kios pun dirubah. Jika rencana semula ukuran kios rata-rata cuma 3 X 4 meter, kini ukurannya lebih barvariasi. Yakni, 4 X 6 m, 3 X 4 m, dan 3 X 6,5 m.

Kepala DPU, Paiman Adhi, menjelaskan, dalam desain baru, Pasar Kajen tetap akan dibuat dua lantai dengan mengikuti kontur la­han. Antisipasi kemungkinan pelebaran jalan di depan pasar juga dipikirkan. Ren­cananya, lokasi pasar akan diundur 12 meter dari jalan raya.

“Jumlah pedagang sekitar 1.400 orang, rencananya renovasi mampu menampung se­kitar 1.900 pedagang. Sebab, masih ada bagian pasar yang belum penuh terisi, seperti di blok bawah yang kemungkinan tidak dibongkar,” jelasnya. haw-bg

Dari Pekajangan, Batik Pekalongan Berbicara

Harian Kompas



LEBAR jalan di Gang Pekajangan II hanya empat meter. Mengendarai mobil memasuki gang ini harus hati-hati. Kalau mau berputar kembali butuh halaman rumah yang terbuka. Ketika usaha tenun yang dicari ketemu, letaknya ternyata berada di sela kepadatan jajaran rumah. Ketika mobil mau masuk, di tanah lapang itu terbentang puluhan celana jins tengah ditata di tanah untuk dijemur. "Masuk saja Pak, ndak apa-apa kalau mobilnya melindas celana jins itu," kata salah seorang pekerja di usaha konveksi milik H Chasnoto.

JURAGAN jins wash Chasnoto menyongsong tamunya hanya dengan mengenakan kain sarung dan kaus. Terkesan santai. Langsung dia mengajak tamunya mengelilingi areal rumah sekaligus pabrik usaha jins. Ada 30 pekerja, delapan di antaranya perempuan, sedang menyelesaikan order pembuatan celana jins. Celana yang baru dijemur itu ternyata baru digilas di mesin pencuci, sekaligus diberi obat penguat warna.

"Celana jins, khususnya buat perempuan muda, lagi trend. Jins yang paha depan dan belakangnya diberi sentuhan asap (maksudnya warna putih vertikal). Celana model begitu laku keras. Kalau sudah kering, celana itu dicuci lagi di mesin cuci besar, disetrika, dan dikemas berikut diberi label merek," tutur Chasnoto.

Seorang pekerja mengaku mampu menyelesaikan 35-40 potong celana jins sehari. Rata-rata pekerja memperoleh penghasilan Rp 15.000-Rp 20.000 sehari. Mereka juga dapat makan siang dan makanan ringan. Dari tumpukan bahan yang berserakan, diperkirakan Chasnoto tengah menyelesaikan 400 potong celana jins. Sebagian besar bahan dibeli sendiri, sisanya order dari langganan di Jakarta.

Perajin konveksi ini mengaku, usaha konveksi sudah dilakoni sejak tahun 1982. Usaha konveksi harus luwes, cepat menangkap mode di kota besar. Pekerjanya juga luwes, yang rajin boleh masuk setiap hari, dan sebaliknya kalau lagi malas bisa juga absen. Dari peralatan yang dimiliki, Chasnoto terbilang sukses.

Chasnoto perajin yang beranjak dari bawah menekuni usaha konveksi. Usaha konveksi merupakan sub-usaha industri tekstil dan garmen di Kabupaten dan Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Kerajinan batik dan konveksi (garmen) di daerah pesisir ini tak ubahnya raksasa sentra industri tekstil yang mencakup usaha hulu hingga hilir.

Di sini terdapat perajin sarung palekat tradisional yang hanya mengandalkan alat tenun bukan mesin (ATBM), perajin konveksi, industri menengah garmen, pakaian batik, sampai perajin batik tradisional. Dalam perkembangannya muncul industri tekstil skala menengah dengan kapasitas 50-400 unit alat tenun mesin (ATM). Jumlah tenaga kerjanya 1.000-3.000 orang per pabrik yang menghasilkan kain mori lokal 100.000 yard hingga 800.000 yard per bulan.

Anatomi industri tekstil di Pekalongan unik. Masyarakat di Kabupaten Pekalongan, dengan sentra Pekajangan (Kedungwuni), Tirto, dan Buaran, mengkhususkan usaha tenun palekat, konveksi, tenun ATBM, usaha garmen, pakaian jadi, dan usaha tekstil. Untuk menggambarkan pentingnya sektor industri tekstil bagi warga Pekalongan, usaha tenun sarung palekat saja menghidupi 40.000 orang. Perajin yang menikmati usaha secara tak langsung di rumah bisa mencapai 100.000 orang lebih. Di Kabupaten Pekalongan tercatat tak kurang 70 persen penduduknya bergerak di sektor garmen, konveksi, dan sarung palekat.

Warga di Kota Pekalongan tampaknya mengkhususkan diri pada sektor pembatikan. Segala macam produk batik, mulai dari pakaian batik sutra, kain panjang, sarung batik, sampai busana muslim dikerjakan masyarakat kota. Pembatik tradisional masih banyak dijumpai di berbagai pelosok kota. Beberapa pengusaha batik terkenal, seperti Batik Tobal, Batik Mahkota Agung, juga nama perajin pakaian batik sutera lain sudah akrab di telinga penggemar batik.

Ny Arifin Oesman, perajin pakaian batik "Batik Kisnola" di Jalan Raya Jenggot, dikenal sebagai produsen pakaian batik. Berbagai produk pakaian batik mulai kain panjang, sarung batik, seprei, selendang/cukin, sarung palekat, kemeja batik, batik sutra, busana muslim hingga taplak batik. "Bapak tengah meninjau pekerja di Watusalam, Buaran," ujar Ny Arifin.

Di rumahnya, ruang tamu merangkap counter contoh pakaian batik. Ny Arifin mengakui, pemasaran produk pakaian batik banyak pula di Tanah Abang, Jakarta. Namun, dari total produksinya justru banyak yang diminati pasaran Jawa Tengah dan Bali. Dari kondisi usaha, tak terbayang bagaimana produksi pakaian batik ini mampu menyerap tak kurang dari 100 pekerja. Sebagai bukti sukses usaha ini, tak hanya Ariftex ini punya pabrik sendiri, melainkan di garasi rumah terparkir enam mobil keluaran tahun gres.

MENYUSURI jalan desa di Pekajangan, sekitar delapan kilometer (km) arah selatan Kota Pekalongan (Jateng), senantiasa kita akan bertemu becak mengangkut tumpukan kain mori atau kain panjang batik. Dapat ditemui pengendara sepeda motor memboncengkan kain batik berseliweran dari gang ke gang. Suasana itu dilengkapi dengan suara ATBM yang seolah beradu memilin benang jadi selembar kain.

Menurut Kepala Kelurahan Pekajangan Abdul Baqi, hampir 90 persen warga kelurahan ini menekuni kerajinan batik, meliputi pakaian batik, garmen, termasuk di dalamnya konveksi serta industri tekstil. Dari 2.008 keluarga yang kini bermukim di Pekajangan, nyaris semua menekuni kerajinan batik dan garmen. Usaha home industry yang menghidupi banyak orang.

Sastrawan Pekalongan Yunus Supriyadi menggambarkan, usaha batik menjadi mata usaha orang Pekalongan sejak tahun 1600. Masa itu, orang Pekalongan, khususnya asal Pekajangan, menyadari mereka memiliki kemampuan interpreneur, semangat dagang, dan wirausaha.

Di daerah ini juga banyak tanaman pohon jong (semacam pisang) yang diambil seratnya untuk bahan kain.

"Jadi, tak sepenuhnya warga di sini agraris. Sejarah nenek moyang diyakini pula ada perpaduan perkawinan orang Jawa dengan keturunan Tionghoa yang dulu banyak berdatangan karena pelabuhan Pekalongan sangat ramai," ujar Yunus. Ditambahkan, perpaduan itu menyebabkan watak orang Pekalongan sangat egaliter, tak mementingkan status, suka berwiraswasta serta mudah beradaptasi. Mereka juga tak pernah tertarik jadi pegawai pemerintah.

Sekitar tahun 1800, warga Tionghoa menanam sejenis kapas (ciam). Dari serat tanaman jong dan ciam masyarakat Pekajangan berusaha membuat kain dengan alat tenun sederhana. Jiwa dagang warga daerah ini mendorong perajin dan pedagang bepergian ke daerah lain, termasuk ke Yogyakarta dan Surakarta yang interaksinya semakin kental dari tahun ke tahun. Situasi pertekstilan semakin maju tahun 1920 sehingga timbul pengaturan izin lisensi untuk pengusaha tekstil harus diurus di Batavia (Jakarta) ke Gubernur Jenderal Belanda.

"Kemajuan pesat pertekstilan di Pekajangan ditandai munculnya Batik Trading Compani tahun 1950. Pada tahun 1937, perajin mendirikan Koperasi Batik Pekajangan yang memberi sumber inspirasi munculnya koperasi batik di Setono, Tirto, dan lainnya. Kemunculan koperasi batik akhirnya disatukan dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) pada tahun 1949," ujar Yunus.

Di Pekajangan, kerajinan batik dan konfeksi makin meluas ke Tangkil, Ambokembang, Penatus, dan terus mengilhami usaha sejenis di seluruh Kabupaten dan Kota Pekalongan. Di daerah sekitar, seperti Kabupaten Batang dan Kabupaten Pemalang pun berkembang usaha konveksi.

Pengusaha tenun palekat Gajah Palem Farid Akhwan mengatakan, banyak pabrik pertenunan maupun tekstil yang dikelola koperasi batik secara bertahap mundur usahanya. Terlebih tahun 1970 pemerintah banyak mengizinkan pendirian pabrik tekstil dan pertenunan modern melalui paket program penanaman modal dalam dan luar negeri. Pabrik besar berdiri, banyak pedagang batik atau perajin menjadi juragan di kampung ini. "Munculnya pabrik tekstil besar menyebabkan iklim usaha terseleksi. Pengusaha lokal hanya memiliki mesin tenun tua, aset pasar terbatas, dan manajemen maupun modal lemah sehingga kalah bersaing," ujar Farid.

Meski persaingan usaha tenun dan tekstil tajam, namun secara bisnis perajin di Pekalongan dapat memilih usahanya sesuai kemampuan, mau menekuni pakaian batik, tekstil, garmen, atau tenun palekat

. Malahan ada pameo: bukan orang Pekalongan namanya, kalau tidak mampu menerobos kebekuan pemasaran pakaian batik dan produk konveksi setelah pasar potensial Tanah Abang Jakarta dan Pulau Bali terkena musibah. Menerobos pasar baru mulai banyak dilakukan perajin batik, pengusaha garmen, dan perajin tenun supaya sisa produksi tidak mandek di gudang atau di rumah mereka.

Perajin tenun asal Ambokembang, Kedungwuni, Warsono menjelaskan, bermodal enam ATBM kuno, dia merintis usaha kerajinan tenun. Itu diawali setelah memutuskan keluar dari pekerjaan di pabrik sarung palekat pada tahun 1998.

Bermodal Rp 200.000 dan pengalaman belajar membuat kain tenun, ia merintis usaha sendiri. Usahanya diberi nama Sonyatex, kependekan dari Warsono dan Nyonya Tekstil karena modal usahanya berasal dari istri.

"Saya membeli bahan benang berbagai tipe kemudian diolah dan dijual. Benang itu saya jual secara eceran atau bentuk barang pascaproduksi seperti karpet, beragam cover, serta bahan kain lain," ujarnya.

Dari usaha ini, omzet yang diperoleh kini sudah mendekati Rp 5 juta per bulan. Ketika Pasar Tanah Abang terbakar, dia langsung memasarkan kain tenun ke Bali. Dikatakan, banyak perajin bermodal kecil yang memerlukan bahan baku cepat dan murah. Dengan kesediaan menjual kain berwarna siap olah atau bahan kain tenun saja, dia mencukupi kebutuhan bahan baku ratusan perajin modal kecil yang tak mungkin dilayani pabrik menengah dan besar.

Ketua Koperasi Tekstil Pekalongan (Koperteks) Al Jabar Eddy Budiono mengatakan, pemain baru dalam bisnis usaha ini setiap tahun bertambah. Keluarga muda, maksudnya pasangan muda yang baru menikah di daerah ini, selalu membuka usaha baru. Kalau tak cukup modal, suami bekerja di pabrik tenun, istrinya dagang daster. Nantinya mereka meningkat jadi perajin pakaian batik, produksi daster dan pakaian batik lain. "Meski tumbuh pemain baru, pasar seolah jenuh, tetapi peluang usaha ini masih diminati," ujar Eddy.

KETUA Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pekalongan Imam Ismanto Bakti berpendapat, harus diakui munculnya pabrik baru menyerap bayak tenaga kerja. Strategi pemasaran pun berubah. Setiap usaha bebas memilih pangsa pasar. Ibarat kompetisi sepak bola, ada yang bermain di liga utama, divisi satu, divisi dua, atau berkutat di divisi tiga.

Persaingan sengit, misalnya, bisa dikaji secara gampang dari rebutan merek sarung palekat. Beberapa pabrik tenun melemparkan sarung palekat Cap Mangga, Gajah Duduk, Sapphire, dan Cap Atlas untuk pangsa pasar kelas atas. Sebaliknya, pengusaha kecil bermain di segmen bawah, membuat merek ikutan yang tak jauh beda merek papan atas.

Merek Gajah hingga saat ini jadi trade mark sarung palekat bikinan Pekalongan. Betapa sengitnya persaingan dagang, cap Gajah bisa jadi contoh betapa merek menyusul sarung cap Gajah Duduk.

Pengusaha sejenis mengeluarkan bermacam merek tanpa meninggalkan kata Gajah, mulai Boneka Gajah, Gajah Duku, Gajah Palem, Gajah Bola, dan Gajah Dudu. "Kalau mau membeli kemeja batik sutera murah datang saja pada hari Idul Fitri. Kemeja batik motif floring hanya dijual Rp 20.000 per potong. Ini harga yang sudah tidak realistis, tetapi nyata," kata Ismanto Bakti.

Persekutuan perajin batik dan trader di Pekalongan pada tahun 1999 mendorong munculnya pasar grosir batik lokal yang mampu menyerap tak kurang dari 10 persen total produksi tekstil, batik, dan garmen. Soni Hikmalul, salah seorang penggagas pasar grosir menjelaskan, pasar grosir sebenarnya membuka celah pertemuan produsen batik dengan pedagang besar maupun pembeli eceran.

Bisnis ritail batik ternyata sangat diminati, terbukti kini ada enam pasar grosir batik di Pekalongan. Pasar grosir terbesar adalah Pasar Grosir Setono dengan jumlah 250 kios. (WINARTO HERUSANSONO)


Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini

Harian Kompas


BATIK pekalongan bukan hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga terkenal di mancanegara. Batik pekalongan sejak lama diekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Sedemikian terkenalnya batik dari Pekalongan, Jawa Tengah sehingga jenis batik ini tidak berhenti hanya menjadi hasil kegiatan ekonomi, tetapi juga telah menjadi ikon wisata.

BATIK pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern.

Gagal melewati masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah.

FATHIYAH A Kadir, seorang pengusaha batik di Kota Pekalongan, mengatakan, pada awal tahun 1970-an hampir seluruh pekerja di unit usaha batik pekalongan adalah petani. "Jadi, mereka tukang batik sekaligus petani," ujarnya.

Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.

"Suasana kerja sangat diwarnai semangat keguyuban, semangat kekeluargaan," ungkap perempuan pengusaha itu.

Sebagaimana halnya motif batik pekalongan yang secara kontinu berubah seiring perjalanan waktu, suasana keguyuban atau kekeluargaan juga dirasakan telah berubah. "Terutama setelah keluarnya Undang-Undang tentang Tenaga Kerja," ungkap Fathiyah.

Lewat UU tersebut, pengusaha yang memiliki pekerja dalam jumlah tertentu harus mengikutkan pekerjanya dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Selain itu, UU yang sama juga memberi kesempatan bagi pekerja untuk mendirikan serikat pekerja sebagai alat perjuangan kepentingan mereka.

Aturan ini dinilai sebagai bentuk intervensi pemerintah yang merugikan pengusaha batik. Alasannya, pengusaha terpaksa membayar iuran Jamsostek dan mengizinkan pekerja untuk mendirikan serikat pekerja.

Pandangan semacam itu, menurut Ketua III Paguyuban Batik Pekalongan Totok Parwoto, masih banyak ditemui di kalangan pengusaha batik pekalongan. "Mereka melihat iuran Jamsostek sebagai beban. Padahal, justru dengan ikut serta dalam program Jamsostek, pengusaha menjadi terbantu. Jika terjadi sesuatu pada diri pekerja, tunjangan bisa diambilkan dari Jamsostek," katanya.

Totok mengungkapkan, masih banyak pengusaha batik pekalongan yang mengeksploitasi pekerja. Produk batik yang dihasilkan mencapai harga jutaan rupiah, namun kesejahteraan pekerja jauh di bawah batas kewajaran.

"Suatu waktu saya akan mengajak Anda ke suatu tempat usaha batik di Kelurahan Buaran, Kota Pekalongan. Pemilik tempat itu sangat memforsir pekerja. Batiknya laku sampai jutaan rupiah, tetapi pekerjanya hanya makan nasi bungkus, yang menurut saya, kurang layak untuk disajikan," ujar Totok.

ZAMAN telah berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.

Tuntutan pekerja terhadap kesejahteraan yang lebih terjamin dipandang pengusaha sebagai bentuk perubahan zaman yang merugikan mereka. Suasana kekeluargaan sudah tidak ada lagi, suasana keguyuban sudah pupus.

Pengusaha semakin merasa tersudutkan karena pemerintah ternyata melindungi pekerja untuk membuat serikat pekerja dan mengharuskan pengusaha untuk ikut program Jamsostek.

"Kondisi ini semakin susah karena penjualan batik pekalongan anjlok setelah ada serangan bom di New York pada bulan September 2001, bom di Bali pada bulan Oktober 2002, dan terakhir terbakarnya Pasar Tanah Abang," ujar seorang pengusaha yang keberatan dengan UU Tenaga Kerja yang terbaru.

Belum lagi batik pekalongan kini menghadapi persaingan berat di dunia internasional. "Produk tekstil dari Vietnam dan Banglades terus mendesak pangsa pasar batik pekalongan. Padahal, produk yang mereka hasilkan bukan batik. Ini dikarenakan orang luar negeri sesungguhnya tidak peduli apakah jenis tekstil yang mereka beli itu batik atau bukan," ujarnya.

Apa yang dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

Persoalan itu, antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia.

Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.

Kompetisi yang kian ketat mengondisikan usaha kecil menengah untuk memperbaiki kinerja, sekaligus memperbaiki kualitas produk yang mereka hasilkan. Paradigma lama kerap menuding tuntutan perbaikan kesejahteraan pekerja sebagai kambing hitam terjadinya pembengkakan produksi.

Paradigma ini mengabaikan kualitas pekerjaan yang baik atau kreativitas untuk menghasilkan inovasi produk keluar dari pekerja yang sejahtera dan pekerja yang melaksanakan tugasnya dengan tenang.

Untuk bertahan di tengah kompetisi yang semakin ketat, pengusaha batik pekalongan sudah seharusnya mengadopsi paradigma baru dalam mengelola usaha mereka. Sebagaimana tersirat pada pandangan yang disampaikan Totok.

"Kualitas produk sangat ditentukan oleh pekerja. Program yang menguntungkan pekerja, seperti Jamsostek, sangat membantu pemberdayaan pekerja," ujarnya.

Hanya bersandarkan pada keunggulan upah pekerja yang murah sudah harus ditinggalkan pengusaha Indonesia, termasuk pengusaha batik pekalongan. Bersandarkan pada keunggulan berupa keunikan produk tampaknya juga sudah harus ditinggalkan.

"Pesaing kita semakin berat. Bayangkan, saat saya berkunjung ke Bangkok, saya melihat ternyata Thailand kini juga mampu membuat batik yang jauh lebih bagus daripada yang kita hasilkan," ungkap Totok.

BAGI pengusaha batik pekalongan, memasuki tahun 2004 adalah memasuki masa yang penuh kesulitan. Permintaan batik pekalongan dari segala penjuru di Indonesia anjlok drastis. Berkodi-kodi batik menumpuk di tempat pengerjaan karena lesunya permintaan.

"Ketika krisis moneter tahun 1997, batik pekalongan terpukul akibat kenaikan harga kain mori. Namun, dampak kenaikan harga kain mori cukup bisa diimbangi dengan penjualan ekspor batik pekalongan yang menguntungkan karena anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kondisi ini berbeda dengan sekarang. Nilai tukar rupiah sudah relatif stabil, tetapi permintaan sangat lesu," kata Direktur Pasar Grosir Setono, Kota Pekalongan, Hasanuddin.

Sejumlah pedagang batik di pasar grosir menuding penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 sebagai penyebab menurunnya omzet penjualan batik pekalongan hingga 50 persen. Argumennya, orang menunda perjalanan ke pekalongan karena menunggu hingga rampungnya kampanye Pemilu 2004.

Akan tetapi, bagi Hasanuddin, lesunya penjualan batik pekalongan terkait erat dengan penurunan daya beli masyarakat. Alasannya, jika penjualan batik pekalongan lesu hanya dikarenakan Pemilu 2004, tentu pesanan batik dari luar Pekalongan, seperti Makassar dan Surabaya, relatif tidak mengalami kelesuan karena orang tidak perlu melakukan perjalanan ke Pekalongan.

"Pengusaha batik yang dulu berorientasi menjual produknya ke luar kota sekarang beramai-ramai berjualan di Pekalongan. Ini ditandai dengan melonjaknya permintaan kios di pasar grosir," ujar Hasanuddin.

Akan tetapi, usaha itu tampaknya tetap tidak membantu. Bertumpuk-tumpuk batik tetap saja tak terjual di tempat produksi. Karena itu, dari sekitar 100 usaha batik di daerah Kelurahan Buaran, misalnya, sekitar 25 persen di antaranya sudah meliburkan pekerja. "Penjualan macet. Bagaimana mereka bisa melanjutkan produksi?" ungkap Hasanuddin.

Redupnya usaha batik pekalongan, menurut Hasanuddin, juga ditandai dengan kian banyaknya penyewa kios di Pasar Grosir Setono yang membayar ongkos sewa dengan cek kosong. Ini nyaris tidak pernah ditemui pada masa sebelumnya.

"Padahal, penyewa kios itu tergolong pengusaha besar dan nilai sewa yang harus dibayarkan cukup kecil, hanya Rp 1 juta-Rp 2 juta. Saya kira, dalam kondisi normal, tidak mungkin pengusaha yang tergolong cukup mapan melakukan hal tersebut," kata Hasanuddin lagi.

Akan tetapi, peka terhadap tuntutan pasar dan meresponsnya dalam bentuk inovasi dibuktikan pengusaha batik pekalongan, Rusdiyanto, yang berhasil menyelamatkan usahanya dari terpaan krisis. "Kalau saja saya tidak memulai memproduksi batik serat nanas tiga tahun lalu, usaha batik saya mungkin juga sudah meliburkan pekerja sekarang," kata pria yang tempat usahanya berada di Kelurahan Setono, Kota Pekalongan, tersebut.

Batik serat nanas yang diproduksi Rusdiyanto memang tidak terpengaruh oleh terpaan krisis. Harga kain batik pekalongan berserat nanas dengan ukuran panjang 2,56 meter dan lebar 1,15 meter bisa mencapai Rp 1,5 juta-Rp 3 juta. Karena itu, orang yang membeli jenis batik ini tentunya mereka dengan kondisi keuangan yang nyaris tidak terjamah gempuran krisis.

Bahkan, Rusdiyanto mengaku saat ini kesulitan untuk memenuhi order. "Batik serat nanas yang saya produksi tidak pernah menumpuk. Baru jadi, langsung dibawa pembeli ke Jakarta atau Singapura," ungkapnya.

Menurut Totok Parwoto, harga batik serat nanas di Jakarta naik berkali-kali lipat dibandingkan saat harganya masih di Pekalongan. "Kain batik serat nanas yang harganya di Pekalongan Rp 3 juta bisa mencapai Rp 7 juta di Jakarta," ungkapnya.

Batik serat nanas memiliki harga yang mahal karena suplai kain serat nanas masih sangat sedikit. Saat ini pengusaha batik serat nanas di Pekalongan hanya bergantung pada dua penyuplai kain serat nanas, yakni dari Kabupaten Pemalang dan dari Pabrik Radika di Pekalongan.

Sedikitnya produsen kain serat nanas disebabkan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam proses pemintalan serat nanas menjadi benang, yang selanjutnya ditenun menjadi kain. Padahal, di Pemalang, terutama di Kecamatan Belik, tanaman nanas melimpah ruah.

Selain itu, harga kain batik serat nanas sangat mahal karena jenis batik ini dipadukan dengan serat sutra. Padahal, batik sutra sendiri sudah tergolong sebagai batik yang mahal. "Belum lagi pembuatan batik serat nanas dilakukan dengan tangan atau termasuk batik tulis. Satu bulan, satu pekerja saya hanya menghasilkan satu kain batik serat nanas," kata Rusdiyanto.

Inovasi yang dilakukan Rusdiyanto bukan hanya terbatas pada penggunaan serat nanas. Pengusaha batik ini juga melakukan inovasi pada motif batik. "Saya menggunakan motif batik pekalongan kuno," ujarnya.

Motif batik pekalongan kuno adalah motif yang dipakai saat pertama kali batik pekalongan muncul. Motif ini biasanya berbentuk tentara Belanda atau orang Belanda dengan segala atributnya. Bahkan, tidak jarang motif itu juga menggambarkan tank.

Warna yang digunakan Rusdiyanto juga warna saat batik pekalongan pertama kali muncul, yakni warna yang natural, seperti coklat atau merah bata. Berbeda dengan warna batik pekalongan sekarang, yang disebut orang dengan warna ngejreng. "Kain batik serat nanas dengan motif kuno dan warna alam ternyata sangat disukai pembeli dari luar negeri," katanya.

Inovasi terbukti selalu memberikan jalan keluar. (A TOMY TRINUGROHO)

Monday, October 22, 2007


Selamat Idul Fitri. 1 Syawal 1428 H.

Taqobalallahu Minna Waminkum - Taqobal Ya Kariim.

Minal Aidin Wal Faidzin. Maaf Lahir dan Bathin

Wednesday, September 12, 2007



Marhaban Ya Ramadhan
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Pesan Rasullulloh Jelang Puasa

Amal yang paling utama adalah menjaga diri.



Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari paling utama. malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jam, menit dan detik demi detiknya adalah saat yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu semua diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini setiap hembusan nafasmu menjadi tasbih, tidurmu di bulan ini menjadi ibadah,amalmuditerima dan doa-doamu dikabulkan.

Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan, dan kehausan, di hari kiamat. Bersedekahlan kepada kaum fukara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yagn tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaran yang dari apa yang tidak halal kamu mendengarnnya.

Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah azza wajalla memandang hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab ketika mereka menyeru-Nya, menyambut ketika mereka memanggiln-Nya dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia, sesungguhnya dirimu tergadai karena amal-amalmu. Maka, bebaskanlah dengan istighfar. Punggungmu berat menanggung beban (dosamu), maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah Allah Taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang shalat dan sujud dan tidak akan mengancam mereka dengan mereka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul Alamin.

Wahai manusia, barang siapa di antara kalian memberi buka puasa kepada seorang mukim yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budah dan diampuni dosanya yang telah lalu.

(Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian. Rasulullah melanjutkan).

Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau dengan seteguk air. Wahai manusia, siapa membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati jembatan sirathal mustagim pada hari ketika kaki-kaki lain tergelincir.

Siapa yang memperbannyak sholawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barang siapa pada bulan ini membaca satu saja ayat Alquraj, maka ganjarannya sama dengan mengkhatam Alquran pada bulan yang lain.

Wahai manusia sesungguhnya pintu surga dibukakan, maka mintalah keapada Tuhanmu agar pintu itu tak akan ditutup untukmu. Dan pintu neraka ditutup, maka mohonlah kepada Rab-mu agar tidak pernah membukanya untukmu. Setan-setan dibelenggu ada di bulan ini dan mintalah agar ia tak pernah menguasaimu.

Amirul mukminin berdiri dan berkata: Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini? Nabi menjawab, Ya Abal Hasan, amal yang paling utama adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.
(diambil dari buku: Majalah Ramadhan)


Friday, August 10, 2007





Memaknai Perayaan Pitulasan (17-an)
Bangsaku Apa Bang “Saku”


Pagi2 sekali habis sholat subuh, dengan speda made in Djepang, saya menyusuri persawahan yang ijo loyo2, masuk kampong keluar kampung, dan saya lakukan tiap pagi sejauh 10 km. Wong kota nyebutnya sepeda sehat. Kalo ditotal Djendral, dalam sebulan 300 km. Artinya tiap bulan dari Pekalongan saya ke Jakarta, naik sepeda. Hebat nggak Lhour ?!


Lho kok pakai speda Djepang, apanya yang asyik .? Ceritera speda Djepang ini unik . Speda ini konon hanya ada di Pekalongan. Di Djepang speda ini sudah disampahkan, tapi dasar wong Ngkalongan yang banyak akalnya, speda rongsokan Djepang, yg sudah jadi sampah di Djepang itu di ekspor ke Indonesia . Di Pekalongan, tepatnya di nDeso Banyurip Buaran Pekalongan oleh Pak Kaji Kastolani -importir speda rongsokan- di make up, ya dicat lagi, dikinclongkan lagi , jadilah speda gress made in Djepang. Spedanya dinamai AL JABAR singkatan dari “Alhamdulillah Jalan Baru”. Bagi Pak Kaji Kastolani speda ini merupakan usaha yang benar2 mendatangkan rejeki halal. Karena dari sepeda Djepang inilah Pak Kaji Kastolani bisa bermobil “BMW”, ber-Haji berkali2. Makanya Pak Kastolani dipanggil “ H3 Kastolani ”. Artinya sudak 3 x pergi haji. Dan jangan coba2 ente panggil dia dengan “nama saja” tanpa hajinya, ditanggung tidak bakal menoleh. Lha kudunya gimana ? Kang Kaji atao Mas Kaji ! panggilannya. Opo ora hebat ! Panteslah kalo nama merk sepeda Djepangnya AL-JABAR alhamdulillah jalan baru .


Konon Pak H3 Kastolani itu importir tunggal di Indonesia. Dikota2 lain, nggak ada sepeda Djepang merk ALJABAR. Sehingga ketika sepeda itu dibawa ke Jakarta, oleh tetangganya Pak Kaji, Glenn namanya (yg kuliah di Jkt) , wong2 Jakarta pada gumun bin heran. Antique sepedanya , pakai persneling, tidak pakai rantai tapi pakai gardan…leslesszzz,..ting tong.!!!


Begitulah sohibul hikayatnya speda Djepang merek ALJABAR, yang tiap pagi esuk utuk2 saya ajak keliling nyusuri persawahan dan dari kampong keluar kampong. Walah asyiknya Man !


Dari “perjumpaan” saya dengan masyarakat kampung, melalui tamasya tiap pagi itu, saya merasakan benar2 “menjadi” Wong Indonesia. Lebih2 dalam suasana nyambut Pitulasan Mereka (orang2 kampung) dengan sapu wodo, bersih2 halamannya, ada yang sedang nglabur (ngecat) rumahnya. Ada yang beramai2 pasang umbul2 merah putih. Ada yang lagi pasang pohon pinang. Pinang itu akan digunakan untuk lomba panjat2-an, dan ada panggung kecil yang dihias dengan kertas warna warni. Panggung untuk lomba "menangis". " Wong Kampung sini sudah kehabisan airmata" kata Kang Bonari. Sejak kapan ? " Walah den Kaji, sejak jaman .. yang katanya sosi,sosi itu lho ". "Sosi sosi , repormasi goblok !" sambung Ali Kuping, yang rambutnya dicat , ben koyo Londo . Sing biso nangis keluarkan airmata, hadiahnya kambing. Ada lagi sekelompok remaja sambil senda gurau, asyik mengecat garis pingggir jalan dengan warna putih. Setiap 5 m, jalan2 kampung dikasih bendera merah putih. Jadilah Kampung2 itu semarak , menyambut datangnya Perayaan Pitulasan.


Mereka sibuk, tapi sangat enjoy. Ketika ditanya “ono opo Kang, kok rame2 ?!” Jawabnya : “Sampeyan kuwi Kang Kaji, opo ora reti, nek sedelo maneh Pitulasan “ Lha saya kira kan mau ada mantenan.


Sambil beristirahat dibawah pohon Karsem, sambil nyruput kopi hangat yang saya bawa dari rumah dan tentu saja nyedot rokok SUKUN , saya melihat kesibukan mereka. Dan sangat mengasyikkan . Tidak ada yang nyuruh, ndak nada yang ngomando, tapi atas kesadaran mereka sendiri, mereka menyambut 17-an, sebagai “hari yang spesial”.Bahasanya wong pinter, mereka memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang sangat luar biasa. Mereka "sangat" Indonesia.


Hari2 itu mereka melupakan kesulitan hidupnya yang mengimpit bertahun2 sejak Repotnasi. Mereka sebenarnya bagian dari orang2 yang terlempar dari Pabrik2 yang berada disekitarnya. Anak2 remajanya, menjadi bagian kelompok yang tidak bisa meneruskan sekolahnya. “ Boro2 sekolah, wong untuk makan sehari2 saja, susah bin sulit” kata Kang Badrun bapak dari 5 anak2nya yang masih kecil2.


Mereka inilah yang selalu jadi komoditas para elite ( data dari Sugeng Saryadi Syndicate hanya 20.000 orang), dalam rangka meraih kepentingannya. Demi rakyatlah atau atas nama Rakyatlah, seolah2 wong elite2 itu memperjuangkan kepentingan mereka. Walah jebulnya, untuk “Saku”-nya sendiri. Ulah 20 ribu itulah yang bikin 200 juta rakyat menderita. Atas nama Demokrasi, mereka berpesta pora. Bermobil mewah. Kunjungan Kerja keluar negeri. Minta uang transportnya ditambah demi kunjungan kepada rakyatnya. Rumahnya disewakan Negara. Listrik, telepon dan hp-nya juga minta dibayar Negara. Dan yang fantastis mereka bukannya bersholat jamaah tapi Berkorupsi Jamaah. Ketika mereka menilep uang Rakyat, mereka bilang, itu syukuran, bukan korupsi. Masya Alloh..


Pada Pitulasan (17-an) tahun ini, 62 tahun Indonesia merdeka. Kawan2ku dan saudara2ku di Kampung2 yang hari2 ini dengan tulus tanpa pamrih kepada siapapun, bersiap2 menyambut Pitulasan dengan cara dan gayanya khas wong nDeso, mengibarkan merah putih dihalaman rumahnya, mengecat rumahnya, menghias kampungnya dengan rupa2 warna merah putih meskipun mereka dihimpit derita kesulitan hidup. Mereka tetap menganggap Indonesia adalah Indonesia Raya, bukannya Indonesia Rayahan”. Dan ketika mereka menyatakan kesetiaannya sebagai Bangsa.,dia nyatakan dengan lantang dan jujur . Aku Bangsa Indonesia, dan sampai kapanpun aku berjuang dan mengabdi untuk BANGSAKU, bukannya BANG – SAKU. <>

Monday, July 30, 2007



Rame2 Soal Pak MODIN

"Bonggan Kowe Gelem Dadi Rakyat”


Saya blas ora ngerti , saya kira Pak Modin itu ya Pak Lebe, walah jebulnya singkatan Mobil Dinas. Maklum wong nDeso klutuk.


Lha minggu2 ini, Pemkab Pekalongan lagi diramaikan dengan masalah Pak Modin. Critane pigimana ? Begini. Bu Bupati dan Pak Wakil Bupati, saiki nganggo Modin gressss. Bupatinya pakai Modin Camry Toyota Djepang sing harganya 0,5 milyar . Pak Wakilnya pakai Modin Honda Accord Djepang . jare regane 400-an juta punjul.


Kang Panjul sing dodolan segomegono lesehan, sing mangkal nang Pasar Mbabrik Ngkajangan gumun “ lho ..? Bupati sama Wakile kan wis ngannggo mobil, lha mobilnya sing mbiyek dikapakke ? “

“Y o mbuh ! kok takok karo aku !” jawab Rahit Pitut tukang becak .

“ Takok bae ra karo Bupatine “ sambung Nju Sripah bakul sego pindang tetel.

“ Kowe kuwi mesti ketinggalan sepur, Ketua DPRD-re yo wis suwi sih, nganggo Honda Taufic” sambung Ali Kuping , bakul sayur.

“ Taufic sopo, Honda kok Taufic. Taufic kuwi kan anake Kaji Soleh” kata Sripah

“ Honda Civic Accord” tegas Rahit Pitut


Gumunnya para rakyat dibawah yang nggak ngerti apa2 ini, juga jadi gumumnya para elite Partai , Ormas dan LSM.. Sekretaris PKB Kab.Pekalongan , mempertanyakan tentang pembelian Modin, demikian juga Ketua PC NU Kab.Pekalongan. “ Nggak punya sense of crisis” kata Ketua NU.

Pimpinan LSM, juga godeg2. Karepnya itu gimana. Wong rakyatnya lagi pada susah, kok Bupati dan Wakilnya dan Ketua DPRD-nya , gaya pakai mobil mewah. Kalau uang beli mobil itu diperuntukkan untuk kebijakan2 yang menyejahterakan rakyat , kan lebih baik. Nggak usah gayalah, kata Pimpinan LSM.. Jangan model BOGOR, biar tekor asal kesohor !


Sebelum masalah Modin ini muncul di publik , secara langsung dalam diskusi yang diselenggarakan FASTABIQ INSTITUTE Muhammadiyah Kab.Pekalongan, tanggal 21 Juli 07 yang lalu, Ketua Muhammadiyah Kab.Pekalongan sudah memberikan sinyal, bahwa Kab.Pekalongan perlu meniru Kab.Jembrana Bali. Daerah paling misikin di Bali, dengan PAD 11,2 milyar, penduduknya 257 juta dan APBD-nya hanya 259 milyar, tapi policy2nya benar2 pro Rakyat. Sekolah dari SD sampai SMA gratis SPP. Rakyat suntik dan beli obat gratis. KTP gratis dan masih banyak kebijak2nya yang pro Rakyat. Dan Pak Bupatinya I Gde Winasa yang dokter gigi (untu), modin-nya hanya TOYOTA HARDTOP 1978. . Opo ora por !


Kenapa Pak dokter untu Winasa begitu hebat ? Ketua Muhammadiyah Kab.Pekalongan menjelaskan, resepnya gampang. Priye ? “Ngko ndisik aku pak udud ” , kata Pak Ketua Muhamamadiyah. Setelah rokok Sukun-nya habis. Dia berceritera. “ Pak Bupati Winasa begitu pro rakyatnya, resepnya hanya satu “ Dia setiap hari berhasil mengalahkan “ hawa nafsunya”
( Hawa = kepentingan dan Nafsu = diri sendiri). Dia setiap hari berperang melakukan “jihad akbar”. Dan ketika hawa nafsunya bisa ditaklukkan, yang menang adalah Hawa Ummat
( Kepentingan Rakyat). Pak Winasa (meskipun di orang HINDU )merasakan benar apa yang dikatakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa berperang melawan hawa nafsu adalah perang besar ( Jihad Akbar).


Pak Ketua Muhammadiyah meneruskan. “Kenapa para Bupati , Walikota dan Pak Gubernur yang notabene telah berkunjung ke Jembrana, untuk ngangsu kaweruh atas keberhasilan Jembrana sebagai daerah yang paling berhasil dalam mengetrapkan OTDA, ( 300 Kab dan Kota dan 10 Propinsiti telah berkunjung ke Jembrana) )tidak berhasil mengetrapkan kebijakan2 seperti Jembrana, jawab-e gampang lhour , Pak Bupati, Pak Wali dan Pak Gub, belum berhasil mengalahkan Hawa Nafsunya “


Jadi persoalannya bukan daerah Miskin atau daerah Kaya, tapi muskila kabirnya (masalah besar) hanya HAWA NAFSU tok lhour. Selama Hawa Nafsu mengalahkan Hawa Ummat jangan harap kebijakan2 Pemda akan Pro Rakyat.

“Lha kalau begitu terus pigimana” kata Ngkoh Tjun Hwie Kedungwuni

“ Bonggan kowe gelem dadi Rakyat “ ….. “ Ah ente ! “ <>

Tuesday, June 19, 2007



Antara Kang Jasir dan Mas Jaman


Kalau kita omong tentang Jowo, assosiasi kita ya Pulau Jowo yang membentang dari Anyer sampai Banyuwangi. Tapi mahluk yg menghuni di Planet Jowo tidak semuanya mau disebut Wong Jowo.

Orang Serang atau Tangerang, menyebut dirinya wong Banten. Orang Ciledug atau Meruya Jakarta, tidak mau disebut Wong Jowo, dia bilang, Orang Betawi..

Apalagi orang2 Jawa Barat, Urang Sunda. Secara sosisologis dan antropologis ya memang begitu . Yang mau nyebut dirinya Wong Jowo, hanya orang2 Jawa Tengah, Jogya, Solo dan orang2 Jawa Timur.

Tentang Wong Jowo Jawa Tengah, Jogja dan Solo, biasanya persepsinya menjadi bias,

Mahluk2 di Jawa Tengah digeneralisir seluruhnya Wong Jowo. Sehingga pernik2 budayanya dianggap tunggal. Contoh dalam upacara kawinan, Wong Tegal, Wong Ngkalongan. Pemalang, Brebes dan Batang, kalau mantenan, ya mengikuti seremoni budaya Jogja atau Solo, yang dianggap sebagai Mekkahnya budaya Jowo. Ya pakai cucuk lampah, pakiannya mempelainya busono kraton bahkan adicoronya pakai boso

yang tirik2, yang tidak difahami opo kuwi artine.

Secara etnologis dan budaya, Jowo Jawa Tengah dan DIY itu dapat digolongkan menjadi 2 entitas, yaitu Jowo Pesisir dan Jowo Pedalaman.

Yang pesisir, yang mendiami wilayah Pantura , disebut KANG JASIR (Jowo Pesisir) dan yang pedalaman –jauh dari pesisir -, seperti Solo, Jogja dan daerah2 sekitarnya, Bantul, Wates, Kulon Progo, Sragen, Karanganyar dlsb. disebut MAS JAMAN ( Jowo Pedalaman). Sudah barang tentu pernik2 budoyonya jauh berbeda.

Kang Jasir karena jauh dari Pusat Kraton, biasanya punya sikap egaliter. Semuanya sama, tidak ada batas, tidak ada unggah-ungguh. Lebih demokratis, terbuka. Semuanya sama, yang beda hanya kwalitas taqwanya dihadapan Kanjeng Gusti Alloh .

Beda dengan Mas Jaman, karena dekat dengan pusat kekuasaan Kraton, orang2nya lebih memperhatikan sopan santun, unggah ungguh , bahkan dalam pergaulan sehari2nya, menggunakan boso kromo yang tirik2 itu. Sebagaimana ketika mereka menghormati Rajanya. Oleh karena itu, kita harus maklum kalau Mas Jaman kadang2 “godeg2” lihat tingkah laku Kang Jasir dalam pergaulan sehari2. Ora nganggo totokromo. Sakpenake dewe !. Maklum karena -ya itu tadi- Mas Jaman terbiasa hidup teratur, penuh sopan santun ……. Injih…..monggo….. nuwun sewu…Jadi Mas Jaman, jangan kaget kalau Kang Jasir Pekalongan suka ngobral kata2 : edan, raimu, gebleg !

Jangankan dengan sesame kawan, Kang Jasir Ngkajangan kalau omong sama orang tuanya , ya biasa saja. Lempengan , ngga pake boso2 kromo yang tidak difahaminya .

Entres dan enjoy saja.Ya saking egaliternya. Boso kromo dianggap Boso Ketoprak.

Waktu dulu saya Nyantri di UGM Jogja, pesan Bapak saya antik “ Le kowe tak sekolaheke nang Gajah Mada Jogja kuwi ben pinter, ben ora kalah karo Cino lan ora kalah karo Londo. Dadi dudu ben dadi Ketoprak jawab saya: “ paham.. paham Pak, ojo kwatir beres ….. !“ Biasanya dengan jawaban begitu, sangune mesti ditambah….. ha..ha…

Oleh karena itu kalau Kang2 Jasir, mau mantu anake, yo mustinya pakai budayanya

sendiri. Mantennya lanang pakiannya model Baju Koko, kopiah Hitam Hasan Sukur, sarung batik osli Ngkalongan. Begitu juga manten perempuannya, pakai kerudung / jilbab, dan jarik batik osli Pekalongan.Tambah tesmak (kocomoto) item, tambah afdol. Iringan untuk mantennya waktu dipertemukan, pakai terbang kencer Bring.. tong….bring….tong2… bring….. !

Pengatur acaranya ya pakai bosone Kang Jasir Ngkalongan :

”….. Sedulur2 kabeh… alkhamdulillah …. Kowe kabeh biso teko nang resepsi iki, berarti nglegakke. Mulane aku minangko wakil kadek Sohibaul Bait, matur nuwun yang banyak. Resepsi mantenan iki yo kuwi, resepsi mantenan anake Pak Kaji Djupri sing arane : Moh. Iqbal melawan anake Pak Kaji Dullah sing arane Siti Markonah………

Bring…tong2….bring…. Salatulloh Salamulloh …….” Suarane terbang kencer Njayan Buaran.

Kalau tidak ada terbangan, ya pakai Orbus (Orkes Gambus) Irama Padang Pasir. “Nur Illahi “

dibawah asuhan Sodin Tokyo, Kebutuh Pekajangan.

Monday, June 18, 2007


Kota Ruko


Pro Liman !!! demikian wong Ngkalongan kalau bilang Simpang Lima .Poros yang membagi jl Iman Bonjol (Utara), Jl.Hayam Wuruk (Timur), Jl KH Mansur (Selatan), Jl.Gajah Mada (Barat) dan Jl. Resimen XVII ( Utara setengah mencong sedikit barat).

Teman saya Haji Imron, wong Ngkajangan, hamper 10 tahun sejak 1975-1985, kalau ke Pekalongan tidak pernah lewat lagi Pro Liman. Kalau dia naik kereta dari Jakarta turun di Stasiun, pulangnya ke Pekajangan, pasti lewat Wiradesa, Bojong, Kedungwuni, baru Pekajangan . Apa pasal ?

“ Saya nangis dan ndak tegel “ katanya. “Dulu di sebelah Pro Lima ada hutan kota, orang Pekalongan menamakannya Kebon Rojo” kata H Imron mengenang. “ Kok tegel2nya Pemerintah , membabat Kebon Rojo yang indah itu “. Dan yang gendeng kok dibangun ruko2. “ Kota Pekalongan kehilangan Land Mark-nya . Paru2 kota itu telah wassalam “kenang H Imron sambil matanya yang kosong menatap kaki langit.

Jadi jelaslah, jebulnya H Imron tidak pernah lewat Pro Liman itu ada asbabun wurud-nya

Gelo. Dan gelonya bukan sembarang gelo.. Gelo sing dudu.

Ada lagi teman saya osli Nggrogolan Pekalongan, tiba2 nelpon saya

“ Lhour Ngkalongan pak ono Festival Batik kuwi, opo ora salah ? “ Lho emangnya kenapa ? “ Sing pas kuwi “Festival Ruko ! Ngkalongan kuwi model lhour, wong Kota yang dulu indah kok isine ruko. Rukone ting ntretep . Nang ngendi2 ruko ! Priye jan2e kuwi lhour ? Gene kok ngamuk karo aku” kata saya . Aku dudu wong kota lhuor . Aku wong Ndeso !

Ora ngiloni kena kene - Apa yang diceritakan teman saya tadi, ya memang benar.

Kebon Rojo ( wong ora duwe rojo kok duwe kebon rojo – biasa umuk Ngkalongan), letaknya di pojokkan Pro Liman. Membentang dari depan Masjid Suhada sampai Pom Bensin TAM . Sebelah utara berbatasan jalan Merdeka depan kantor Pajak (sekarang) dan sebelah selatannya berbatasan dengan Jl. Gajah Mada. Kebon yg ditumbuhi pohon2 rindang, beringin, palem raja dan bunga2 yang semerbak harumnya. Ada tempat duduk betonnya,dan kayu. Sambil menghirup udara sore,malam dan pagi kita lihat orang2 jualan tjao, lis manis, dan anak2 lari2 bersama teman2nya. Itulah tempat bersantai sambil memandang lalu lintas dikeindahan Kota Pekalongan.

Taman yang indah yang disebut Kebon Rojo atau juga disebut Taman Bintang Kecil ,juga berfungsi sebagai paru2 kota, menambah sejuknya pandangan ketika kita memasuki Pekalongan. dari arah barat..

Tiba2 “tsunami” modernitas itu datang. Kebon Kota itu dibelah aspal untuk jalan yg menghubungkan utara dan selatan Jl.Resimen XVII. itu terjadi th 1970, tahun 1974, berdirilah ruko2 dan lengkaplah derita Kebon Rojo, ketika dibagian barat dibangun Mall Ratu Plaza ( dulu katanya untuk Batik Centre ) , ndak taunya ujug2 jadi Sri Ratu. Dan sepanjang Kebon Raja yang menghadap jalan Hayam Wuruk didirikan Ruko2. Kebon Rojo ditsunamikan karena demi tuntutan moderenitas dan pembangunan.

Syahwat merusak keindahan Pemerintah, rupanya tidak berhenti dengan Kebon Rojo, Alun2 depan Masjid Kauman, dibuat seperti martabaknya Ibrahim, tengah Alun2 disugar dibuat jalan aspal. Untung syahwat yg merusak itu terhenti. Kalau masyarakat waktu itu tidak nggembor, pastilah Alun2 yang rimbun, berubah menjadi Alun2 Ruko.

Syahwat merusak itu tiba2 berhenti. Oleh karena itu masyarakat harap2 cemas, mudah2an pengalaman yang lalu menjadi pelajaran.

Eh…. ! Ngga taunya, syahwat merusak itu kambuh lagi, malah tambah kenceng.

Kalau dulu Alun2 gagal diubah jadi Alun2 Ruko, sekarang disetiap jalan utama Pekalongan, dirukokan. Disana ruko, disini ruko dan dimana2 ruko.

Benar juga apa kata teman saya Nggrogolan, Mas Ali Jaran, Pekalongan tidak layak lagi disebut Kota Batik tapi Kota Ruko. Disana ruko, disini ruko dimana2 ruko !

.

Saturday, June 9, 2007



Semalam Di Cuba


Prolog : Cerpen ini ditulis dan dikirim oleh bocah Ngkajangan ,arane Andre Tukung, nama generiknya Adhigama Gurun Farid II. Lahir di Ngkajangan besar di Keritjayan Buaran. Sekolah SD dan SMP Muhammadiyah di Pekajangan. Kemudian dalam rangka memperluas radius pergaulan sosialnya, agar bersentuhan dengan teman2nya yang berbeda2 kultur, baik teman2 dari putra putri petani, pegawai negeri, dia Nyantri di Kajen, SMA Negeri Kajen. Setelah menamatkan Bussines School di IPMI jakarta (S 1)dengan spesialisasi Marketing, September ini, dia bermimpi akan mengikuti jejak kakaknya, Antariksa Farid II nyantri di Amerika mengambil Master dibidang Marketing di Texas A&M University USA. Selamat menikmati " Semalam di CUBA "
*****
Akhirnya kupijakkan kakiku di Cuba. Tanah rebellion, saksi bisu kemenangan Che dan Castro atas Fulgecio Baptista, kemenagan para rebellion-revolusioner, kemenangan rakyat atas tumbangnya tirani! Bagai mimpi di terik mentari, siang panas sungguh dahaga. Kemarin aku punya rencana ke Bali, berkunjung ke Electro Hell. Terbawa ke Thailand, mampir ke Golden Triangle—ladang ganja yg sangat luas—hingga aku bertemu Diego, akrab, bersahabat, orang yg menemani hari-hariku di negaranya Fidel Castro.

Malam ini berbeda seperti malam sebelumnya. Aku tdk lagi berkeliling kota tapi aku mengunjungi tempat-tempat bersejarah para rebellion-revolusioner, diantarnya adalah Mr. Che Guevarra dan Mr. Fidel Castro. Aku terkejut, sama seperti saat aku kesetrum kable USB di rumah, aku dibawa Diego ke sebuah lapangan? entah hutan? entah rimba? I don’t know exactly, tapi benar adanya aku berada di sebuah tempat bersejarah. Tanah ini saksi bisu tentara gerilyawan Che dan Castro memenangkan pertempuran atas pasukan battalion Fulgecio Baptista.

Antara percaya dan tidak, seperti saat aku pertama kali bisa jalan didepan Ayah dan Ibuku. Tapi mudah bagiku untuk percaya, krn kakek Diego adl salah satu pasukan gerilyawan dibawah komando Mr. Fidel Castro, hebatnya lagi dlm 55 kali pertempuran kakek Diego tdk pernah tertembak sekalipun.

“Demikianlah sobat kecilku, aku adalah pasukan Divisi II dibawah komandan Castro. Kalo engkau tdk percaya datang ke istana Castro tanyakan apakah dia kenal Gelio Sarossa? Pasukan divisi II, senjata AK 47 bertopi baret?” ungkap Mr. Gelio sembari menghisap cerutu yg katanya pemberian Castro.

Poto-poto drinya bersama Che dan Castro terpajang di dinding-dinding tembok rumahnya. Bahkan terpajang poto ketika Che Berpidato didepan rakyat Cuba atas kemenangannya ia nampak di belakang Che. Gagah memang Mr. Gelio muda membawa ingatanku pada mendiang kakek. Meski harus saling berkejaran dgn usia, raut wajah beliau nampak semangat, spirit of live nya masih begitu tinggi, sense of rebellionnya masih terpancar diantara dua bola matanya.

Belum ada satu jam aku menikmati suasana hutan bersejarah itu, kini aku tengah berada dlm perjalanan menuju kedai kopi “Dominoz”. Kata Diego dan kakeknya bahkan orang2 sekitar kedai kopi ini adalah salah satu tempat bersejarah. Che dan Castro sering minum kopi di “Dominoz” sekedar ngobrol-ngobrol sampai mengatur strategy untuk berperang menumbangkan tirani! Terkejut, lagi-lagi aku terkejut kali ini lebih mirip ketika melihat jutaan bintang di langit berteman akrab dgn cahaya rembulan penuh sempurna. Poto-poto Che dan Castro serta poto-poto pasukan gerilyawan benar2 tertata rapi disetiap sudut ruangan kedai kopi itu, it’s fucking amazing. Gak pernah nyangka gw bisa sampai ke tempat ini, liburan semester ini benar-benar akan jadi moment bersejarah untuk kehidupanku selanjutnya. Setidaknya ini bisa membangkitkan sense of rebellion dan sense of revoluisonerku mencapai angka 100%.

Di kedai kopi itu aku memesan “Black Flamento” kata baristanya (pembuat kopi) minuman itu kesukaan Che dan Castro, mereka mempunyai selera yg sama about coffee but different about cigarette (cerutu). Diambilkan dua buah cerutu untukku, satu kesukaan Che dan satunya kesukaan Castro. Kuambil dua2nya, kuhisap dua2nya aku tahu ini tak akan habis tapi rasa penasaran yg begitu tinggi bercampur sugesti siapa tahu setelah menghisap dua cerutu ini akan muncul new Castro dan new Che yg mempunyai dedikasi tinggi terhadap kaum murba? Menjadikanku melupakan segalanya. Tapi memang berbeda rasa kedua cerutu itu, yg kesukaannya Che terasa lebih keras dan langsung nendang ke paru-paru.

Malam semakin hitam, hembusan angin semakin tajam. Saatnya kembali ke hotel. Dan seperti malam2 sebelumnya Diego enggan menginap di hotelku tanpa memberikan alasan. Sumpah ini benar-benar gila, gak pernah terpikir olehku untuk sampai ke Cuba, mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan bertemu dgn Mr. Gelio Sarossa eks pasukan divisi II. Seiring kutatap langit-langit kamar, seiring pula mataku terpejam. Kali ini bukan sinar mentari yg keluar dari ufuk timur yg membangunkanku tapi rasa lapar yg mencengkramku. Segera ku turun ke lobi hotel untuk cari makan. Tapi pasti akan seperti kemarin aku gak doyan masakan Cuba, dan yg terjadi bukan kenyang tapi malang!. Segera kuhampiri room boy yg tengah berjalan kira-kira 3 meter tepat di depan mataku.

“Excuse me, can you let me know about MacDonald’s corner around here?
“What??!!” (mimik muka kesal, bingung rada marah)
“Km pikir ini Berlin, bisa dgn mudah mendapatkan outlet2 McD?” Jawab room boy itu dgn nada kesal.
“oke-oke, I am sorry” Balasku.

Segera kuangkat kakiku untuk kembali ke kamar. Berharap Diego cepat datang, krn aku tdk bisa menghubunginya, he doesn’t has a mobile phone. Pasti krn kapitalisphobia! Belum lima menit kubawa otakku kedlm kondisi kosong. Tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun, der..der..der..der..der..der! dari segala penjuru. Oh shit!! What the hell is happening?aku yakin itu suara senapan M-16. Disusul tembakan yg diulang-ulang dan pasti itu AK-47. oh my God.. save me God.. save me. Diego dimana km?cepet datang! Tolong!.. Tolong! Ini pasti ulah milisi bersenjata yg tengah berseteru dgn pasukan Castro!, pikirku. Namun setelah kuintip dari jendela dugaanku salah!, mereka tentara Cuba yg menyerang hotel ini!. Ada apa dgn hotel ini?! Oh shit!! Aku gak mau mati konyol disini! Tolong! Aku berpikir untuk menelpon Castro minta pertolongan, aku tahu nomer telepon Castro dari Gelio, tapi Castro tdk mengenalku bahkan bertemu pun belum pernah! Sulit bagi Castro untuk mudah mempercayaiku! Tolong!

Berpikir untuk menghubungi Mr. Hugo Chaves, frontman Venezuela. Berniat mennghubunginya krn dia sahabat mendiang kakek saya. Mr. Chaves dulu satu kelas dgn mendiang kakek saya saat duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Taman Kanak-Kanak itu bernama “TK Gerlyawan”. Kata ayah saya dulu Mr. Hugo Chaves pernah mengendong saya saat masih bayi berkeliling kota Pekalongan, makan di “Sego Sotong Usman” (Usman adalah PKI golongan 2) ketika berkunjung ke Pekajangan dlm rangka silaturahmi dgn Kakek saya. Akhirnya kuputuskan untuk menelponnya. Der..der..der.. dor! DOUM! Suara ledakan terus terjadi.

“Halo? Mr. Hugo Chaves?”
“Halo? Who is speaking?”
“I am adhi, Mr., Cucunya Kakek Djumhan”
“Hmmm.. yeh I know.. so where..”
“Saya dlm bahaya Mr. Saya di Cub..” (der..der..der..! der..der..der..!)
“Ada suara tembakan dmana km??!!”
“Saya di Cuba, di Hotel Capitol, tentara Cuba menyerang hotel ini!”
“Oh my God.. shit! Itu hotel milik pengusaha Amerika, hotel itu memang sudah direncanakan akan di hancurkan”
“Tolong saya Mr.”
“oke..oke saya akan menghubungi Castro.. keep yourself kids”

Belum pembicaraan ditelephone usai, alat peluncur roket menghempas ke arah kamarku. Menghancurkan semua yg ada, hitam kelam tak bertuan, gelap bimbang melayang tak terarah. Aku terbang kearah hitam pekat tak bersekat. Lalu kudapati diriku terhempas di sebuah tempat tidur memegang bed cover berlukiskan Uncle Marley. Kutolehkan pandanganku ke arah kiri, kuliat poto diriku terpajang bersama kakak2ku dan orang tuaku, kuarahkan mataku ke ujung dinding dekat lemari, kujumpai potret diriku bersama sahabat2ku, ku paksakan mataku ke arah dinding dekat jendela kuliat poto dirku memegang stick drum. Akhirnya kutengadahkan mataku menatap langit-langit kamar, menuju satu sinar. Sinar lampu yg semalam aku lupa mematikannya. <>