Thursday, May 10, 2007

Sinetron Bulan Ini
Reshuffle Jilid II

Panggung politik Negeri kita hingar bingar, perkaranya, rakyat Indonesia ramai2 nonton Sinetronyang betajuk " Reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II". Pemainnya mereka yang sahwat jabatannya tinggi, dan mereka yang dag dig dug seport jantung " jangan2 saya ikut direshuffle"yg diperankan para Menteri yang sedang menjabat. Dan sutradaranya Pak Prerogatif, yaitu Pak Presiden. Menonton sinetron tsb. kita tidak melihat sikap seperti dipertontonkan dalam episode Abu Bakar Sang Khalifah dengan sahabatnya Umar bin Khotob. Secara dramatis dan tiba2 Abu Bakar meminta Umar untuk menjadi penggantinya sebagai Khalifah ,karena Abu Bakar sakit. Jawaban Umar, tidak ! "Aku bukan orang yg tepat " kata Umar. Abu Bakar menilai bahwa Umar adalah orang yg tepat. Keras, tegas, jujur dan selalu berkata dg hati nuraninya. Ketika Umar tetap menolak, Abu Bakar mengatakan kepada Umar "Ya Umar , ada 2 perkara yg dibenci oleh Alloh, yaitu pertama orang yg mampu tapi tidak mau, dan yg kedua orang yg tidak mampu tapi mau ". Begitu mendengar peringatan Abu Bakar, menangislah Umar dan Allohu Akbar ! Umar akhirnya mau menerima jabatan menggantikan Abu Bakar, sebagai Khalifah ke II, dalam Pemerintahan Pasca wafatnya Nabi di Madinah. Episode seperti tsb.tidak kitas lihat dalam Sinetron Resuffle II. Justru sebaliknya, banyak orang yang menginginkan diangkat sebagai Menteri. Tidak perduli apakah dia mampu atau tidak, yg penting Menteri.
Dan ketika mereka diangkat menjadi Menteri, mereka melakukan syukuran, bukan mohon minta didoakan agar jabatan yg diembannya berhasil. Malah katanya ada seorang yg diangkat Menteri akan mengadakan Syukuran Kubro. Syukuran boleh, tapi sebaiknya, setelah dia berhasil menyelesaikan tugasnya. Doa itu penting, karena medan yg akan dihadapi bukan masalah enteng. Sudah 9 th sejak reformasi, rakyat makin sengsara hidupnya. Ekonomi riil mandeg, ekonomi rakyat mati suri. Itulah sebabnya tingkat kepercayaan Pemerintah SBY - YK dimata rakyat merosot dari 69 % menjadi 39 % ( Survey LSI Maret 2007).
Terlepas dr semuanya, kita kirim doa dan sangat mengharapkan agar hasil Resuffle II, benar memberikan manfaat yg besar bagi Rakyat. Kalau tidak, kita tidak tahu apa yg akan terjadi.

Monday, May 7, 2007


Harris Riadi

Dengan Batik Warna Alami

(Harian Kompas)


Melawan arus. Itulah yang dilakukan Harris Riadi (46) dalam mengembangkan usahanya sebagai pengusaha batik di Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Di kota itu dilahirkan ribuan perajin batik baik tulis, cap, maupun cetak, namun sangat sulit ditemukan pengusaha batik yang menggunakan pewarna alami seperti yang dilakukan Harris. Sungai Loji, salah satu sungai yang membelah Kota Pekalongan, membuktikan betapa penggunaan pewarna kimia telah merusak lingkungan. Air sungai ini nyaris tak mengalir dan berwarna hitam pekat. Kebangkitan industri batik pada tahun 1980-an berakibat pula pada degradasi lingkungan.

"Saya tidak ingin menambah beban lingkungan. Oleh karena itu, saya memilih pewarna alami, bukan pewarna kimia," ujarnya. Pilihan itu juga menyiratkan bahwa batik adalah seni budaya yang tidak melulu memenuhi kemauan pasar.

Harris yang dilahirkan di Kota Pekalongan, tak asing dengan dunia batik tulis. Tetangganya kala itu kebanyakan bekerja sebagai pembatik. Demikian pula kakeknya, Hazim Mutaman yang sukses menjadi pedagang batik sekitar tahun 1950.

Ketertarikan pada seni batik dipertajam dengan mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia pada tahun 1980. Namun, di tingkat II, Harris memutuskan untuk putus kuliah dan lebih memilih belajar batik kepada seniman-seniman.

Salah satu seniman idolanya adalah Amri Yahya, pelukis batik yang mengajarinya untuk menjadi diri sendiri. Sejak 1982 ia pun memutuskan untuk menggunakan bahan pewarna alami untuk mewarnai batik.

Bahan alami yang digunakan Harris sebagai pewarna mulai dari kulit kayu mahoni, jelawe, secang, tegeran, kayu nangka, hingga bahan jamu, pohon nila, dan daun tom.

Dasar seniman, Harris terus bereksperimen untuk menghasilkan warna-warna baru dari bahan lainnya. Bahan pewarna yang baru itu berasal antara lain dari kotoran sapi dan sabut kelapa. Kedua bahan ini dipilih karena ia ingin mendayagunakan sampah.

Harris mengatakan, kain batik buatannya ini lebih diminati oleh kalangan wisatawan mancanegara. Sejumlah pemandu wisata kerap membawa mereka ke rumah Harris yang berada di kawasan Krapyak Lor, Pekalongan Utara, melihat proses pembuatan batik dengan pewarna alami secara langsung. (L Andreas Sarwono)

HARRIS RIADI
* Tempat dan Tanggal Lahir: Kota Pekalongan, 30 September 1963
* Pendidikan Terakhir: Akademi Seni Rupa Indonesia tingkat II
* Pengalaman Kerja: Desainer Batik Keris tahun 1983-1989
* Workshop: Bintang Batik Warna Alam
* Prestasi: - Peserta Pameran Seniman Muda Indonesia 1985
- Juara Lomba Desain Batik Dekranasda Jateng 2003